Showing posts with label journey. Show all posts
Showing posts with label journey. Show all posts

10/25/2014

Art Nouveau

Kalau dipikir-pikir lagi, ujian di masa sekolah nggak pernah seheboh dan segila ujian waktu kuliah. Padahal dulu pas SMA kan ambil jurusan IPA, yang notabene ada fisika dan kimia, juga matematika yang beranak trigonometri dan kalkulus—the greatest enemies of mankind. Namun dulu entah kenapa nggak pernah ada cerita belajar sampai begadang, tidur cuma tiga jam, sampai pengen nangis darah setelah ngumpulin lembar jawaban. I dunno. Mungkin karena kalau dulu nilai di bawah KKM bisa tinggal minta remed, sementara sekarang kalau nilainya D ya harus ngulang satu semester lagi. Atau mungkin sebagaimana apa yang dikatakan Putri: “anak UI kalau ujian belajar semua, ya” sehingga kita dipacu supaya tetap kompetitif.

Atau karena memang hal sulit yang sudah berlalu akan kita ingat sebagai sesuatu yang mudah.

Man, I'm old.

Jumat kemarin, ujian mata kuliah Hukum Administrasi Negara (HAN) menjadi penutup dari segala rentetan UTS yang bikin gila temporal selama dua minggu. Satu hal yang ada di kepala: pengen jalan, pengen jalan. Bisa gila gue kalo pulang, masuk kamar, terus ketemunya sama tumpukan buku hukum lagi. Akhirnya keinget sama foto-foto Aril dan Amel di Instagram pas mereka dateng ke Galeri Nasional Indonesia. Tempatnya kayaknya bagus, walau saya sangsi bisa apa saya di sana selain foto-foto. Meskipun hidup saya udah sangat terkontaminasi sama desain grafis, saya tetep nggak bisa paham sama yang namanya seni. I mean, if it's good, I'll say it. Namun orang yang memang punya jiwa seni bisa bilang lukisan abstrak itu bagus, atau sebuah titik kecil di kanvas adalah mahakarya, tapi saya paling cuma bisa pasang muka lempeng dan bingung di mana istimewanya. I think that's why I withdrew myself from entering the design major last year.

Untuk kunjungan ini, saya berkomplot sama Alif, tapi kemudian Riza ikut, dan last minute, Diny pun ikut serta, meski nggak bisa kompakan pakai baju hitam putih (this is Alif's idea; I would go with black and white anyway with or without the agreement). Berangkatlah kita ke Galnas, yang ternyata lokasinya ada di seberang Stasiun Gambir, which is deket banget sama kantor Ibu yang juga tempat magang selama bulan puasa kemarin.

And that's why I was a little bit shocked. Berkali-kali melewati jalan tersebut, saya nggak pernah tahu ada sebuah tempat bernama Galeri Nasional Indonesia di antara gedung-gedung tinggi kantor pemerintahan. Bangunannya kelihatan kuno dari luar, seperti bekas peninggalan Belanda, tetapi di dalamnya sangat bagus dan modern, bahkan adem karena banyak AC (oh, screw Jakarta's weather). Pada kunjungan kami, pameran yang sedang digelar adalah Trienal Seni Patung Indonesia #2 "Versi" jadi karya-karya yang disuguhkan semua berbentuk tiga dimensi.

Pameran berlangsung sampai 10 November 2014 nanti. Go check out.





Gagal Koreyah








Pose doa Iftitah


Now we know what will I answer when you ask "will you marry me?" HAHA no.